Sabtu, 20 September 2014

Aku - Kesempatan

Jika kau bertanya siapa yang lebih dulu memiliki rasa itu, aku akan mengakuinya. Tapi jika kau bertanya siapa yang kebih dulu menciptakan kesempatan itu, kau tahu dialah orangnya. Berjejak dari masa lalu, aku tahu aku belum bisa atau tidak sama sekali membuat kesempatan itu. Aku pun mengetahui apa yang akan terjadi jika benar-benar tidak membuat kesempatan itu. Aku hanya tertuju untuk memperbaiki diri sendiri, mencari jati diri. Benar saja. Aku tidak menciptakan kesempatan itu, atau kau bisa menganggapku tidak berani membuat kesempatan itu muncul. Itu pun jika kau menyadarinya.

Kini, aku hanya bersandar pada dinding harapan. Berharap dengan lugunya kesempatan itu akan kembali, pastinya dengan aku yang berbeda dari sebelumnya. Aku bukan peramal, bukan penyihir, bukan juga si pembaca pikiran. Aku hanya secuil jiwa yang belum mengetahui apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Semoga saja kesempatan-kesempatan itu bisa ku buat sendiri dengan cara lebih baik dari kesempatan ku abaikan teruntukmu sebelumnya.

Aku tidak memaksa kau untuk menyadarinya. Aku tidak meminta kau untuk memahaminya. Aku juga tidak mengharap engkau untuk terbiasa dengan ini. Semoga engkau tetap menjalani apa yang tidak akan kau ketahui kedepannya. Begitu pun denganku. Jika kau melihat dari sisi yang berbeda darimu, sungguh, engkau akan mendapati jalan cerita yang selama ini tak kau sadari.






Sungguh. Suatu saat kesempatan yang kubuat akan tertuju untukmu...........














-c.a-

Rabu, 06 Agustus 2014

Fajar : 5.58 WIB





Teringat pernah kubaca suatu paragraf, yang kupikir itu unik. Disalah satu potongan mengungkapkan, jikalau ada seseorang yang muncul dalam skenario mimpi kita ketika tidur, bahwasannya orang itu sebelumnya sedang memikirkan kita.

Saya pun demikian. Seketika itu juga saya memimpikan masa depan. Tapi, apakah masa depan tersebut memikirkan saya ? Apakah masa depan tersebut dapat membuat saya berpikir lebih jauh ? Entahlah.

Mungkin iya. Dan kemungkinan kecil untuk mengungkapkan tidak.


Kupikir segalanya menjadi makin tidak rasional. Itu hanya sepotong mimpi kejadian dimasa depan. Disaat itu pula ada satu sosok yang dominan di sepotong mimpi itu.

Siapa ?

Ah, itu mungkin hanya kawan lama. Kawan yang sangat lama tak kujumpai. Jarak dekat yang seolah-olah terhempas sejauh ratusan mil dari tempatku berpikir detik ini.

Hmmm...
Apapun itu, siapapun itu, kapanpun itu, dimanapun itu, bagaimanapun itu, entah hal itu akan terjadi atau tidak, sepotong kejadian itu hanya bunga tidur yang sejatinya tak kan pernah dapat kupetik.






-c.a-

Sabtu, 14 Juni 2014

Kontra Atas Sesuatu Hal

Beberapa waktu kebelakang, gua emang agak hate sama bidang marketing. Beberapa waktu kebelakang, gua beranggapan bahwa marketing itu cuma mentingin hasil lebih dari apapun. Itu kenapa biasanya orang-orang dibidang marketing suka kerja keras demi target yang mungkin bisa mencekik. Demi target itu, mereka mesti pinter ngomong lah, pinter bujuk rayu lah, pinter jelasin kelebihan produk lah (padahal lebih banyak mubazirnya kalo dibeli).



Balik lagi ke kalimat awal, diawal-awal gua masih buta dunia kerja, gua mengangap bidang marketing oke-oke aja. Yang buat gua agak hate sama di bidang itu adalah saat gua ngelamar kerja disuatu perusahaan yang tentunya dibidang marketing itu sendiri. Mereka memprioritaskan untuk memasarkan produk & mencapai target. Gimana cara buat mancapai target yang gede itu ? Yang balik lagi ke kalimat keempat di paragraf pertama. Gua yang nggak selalu ngomong pun seolah dibebani sama batu puluhan kilo dan gua mesti bawa batu itu ke atas gunung. Karena emang ditekan kerjanya mesti pinter ngomong ke konsumen gitu, gua pun akhirnya milih buat mundur.



Dari situ gua mulai agak underestimate sama bidang marketing itu. Jujur aja, setiap ada tawaran kerja jadi Pramuniaga itu, gua agak merasa acuh aja sama begituan. Biarpun si atasan ngasih tau kalo bakalan dapet uang banyak dari kerjaan gitu. Ya, namanya nggak suka mau diperbuat apa lagi....


Singkat cerita, gua pernah diskusi ringan sama temen gua soal kerjaan kayak gitu. Dia bilang kehidupan sehari-hari itu nggak bakalan jauh dari bidang marketing. Sebagai contoh kecil ya tukang jualan gorengan lah. Itu juga termasuk marketing tapi dalam skala yang masih mikro. Gimana strategi marketing si tukang gorengan itu biar gorengannya laku ? pastinya dia bakalan buat gorengan yang lebih bervariasi, entah apalah namanya itu. Sama juga kayak perusahaan besar, termasuk di mall-mall gitu. Sebut saja para SPG & SPB, mereka semua juga bagian dari strategi marketing. Intinya sih tetep aja menjual.


Temen gua juga sempet-sempetnya ngejelasin kalo 3 orang terkaya didunia itu asalnya dari bidang marketing. Sebut aja Bill Gates, Haji Sulam, sama Haji Muhidin. Bidang marketing yang bikin mereka menjadi 3 teratas terkaya didunia. Dengan kata lain, semua orang nggak lepas dari yang namanya maketing.


Disitu juga gua ngejelasin argumen yang gua milikin. Sebenernya, gua nggak suka marketing saat itu ya karena soal ngejar target itu, ditambah ngejar targetnya mesti bujuk rayu konsumen supaya beli produk yang sebenernya mereka nggak butuh-butuh amat. Dan temen gua ngasih tau kalo gua sebenernya nggak suka marketing karena versinya aja. Yap, itu betul...
ngeliat bahasan tulisan ini dari awal, gua nggak suka marketing itu karena dari satu sisi aja..... karena mesti pinter ngomong & bujuk rayu !
Soal bidang marketing versi lainnya gua merasa baik-baik aja. Nggak mempermasalahkan.




at the last of my post..........

Gua teringet soal pembicaraan gua sendiri sama temen gua (beda orang). Dia bilang kalo 'hidup itu pasti ada pro dan kontra', entah siapapun yang bicara itu, mungkin gua pura-pura lupa siapa orangnya. Gua mungkin memang agak kontra sama hal ini. Tapi ya namanya juga kontra, pastinya semua punya opini masing-masing kan ?
Seengaknya gua berusaha mengemukakan argumen yang masih berbelit dipikiran gua lewat tulisan yang agak berbelit juga. Trims....

Minggu, 18 Mei 2014

Real Madrid Effect



Piala !!! Piala Everywhere !!!



Real Madrid sama Napoli masing-masing udah juara Copa del Rey sama Copa Italia duluan, Begitu Ozil pindah ke Arsenal di awal musim kemaren, gua kira tradisi puasa gelar buat Arsenal bakalan terus lanjut terus Ozil malah mau ikutan puasa sama Arsenal.




Tapi ternyata........................
















































Maybe ini yang namanya "Real Madrid Effect" :|

Sabtu, 19 April 2014

Bayar Sekali, Makan Sebanyak-banyaknya Sampe Begah

Perihal judul diatas, gua emang pengen lagi bahas yang satu itu. Lagi iseng pengen ngeposting yang baru. Daripada garuk pantat mulu, kan bete...




Beberapa restoran emang ada yang yang nerapin konsep bayar sekali, elu bisa makan sepuas elu. Bebas deh tuh, nasi beserta lauk pauk yang entah berantah apa namanya itu bisa elu konsumsi.

Tapi bagi gua, konsep kayak gitu itu cuma bagian dari strategi marketing si empunya restoran aja sik. Oke, begini ceritanya.....


contoh, di rumah makan biasa ato kita sebut aja restoran biasa, biar keren nyebutnya, harga seporsi makanan sebut aja 20.000 . Sementara di resto 'bayar sekali makan sepuasnya' ini mempromosikan dengan embel-embel bayar 100.000 bisa makan menu apa aja yang ada di situ. Kan biasanya yang pelanggan yang dateng ke resto itu rata-rata orang kaya. Eh, nggak juga deng. Gua sebut aja rata-rata pelanggan yang ke resto itu tuh biasanya orang-orang jaim.

Kenapa jaim ? biasanya malu kalo ambil makan banyak-banyak itu mah bakal dibilang norak lah, rakus lah, kelaperan lah. Karna ada yang nyangkut soal jaim itu, beberapa orang di resto itu biasanya cuma ambil makanan malah nggak banyak-banyak. Mungkin cuma seporsi.

Itu dia ! kalo di restoran biasa aja bisa dapet seporsi makanan cuma 20 rebu, sementara di resto itu ditambah rasa jaim itu juga, orang cuma dapet seporsi makanan yang sama kayak resto biasa dengan harga 100 rebu. That's the point !

Restoran itu bisa dapet keuntungan 5 kali lebih banyak dari resto biasa. Ma'lum juga sih. Biasanya yang dateng itu ya orang-orang kaya. Mereka kan makannya dikit. Paling makan nasi setengah, ayam sepotong kecil, itu juga pas terakhir masih banyak sisanya. Bukan karna gua merhatiin orang makan juga sih -_-
Beda kelakuan kalo orang-orang kayak gua makan. Jangan gua deh, sebut aja 'kita'. Orang kek kita kalo makan jangan arep ada jaim-jaiman. Nasi padang aje abis satu masih laper.


Ya kira-kira begitulah cara mereka ambil untung. Kalo menurut gua, versi mereka itu licik. Licik dalam artian bukan jahat, tapi cerdik manfaatin peluang untung.


Gua pernah mikir buat cara bikin rugi restoran kayak gitu. Seandainya gua punya duit banyak (amin) gua bakal ajak mungkin puluhan tukang bangunan yang capek abis kerja ke restoran kayak begitu. Tau sendiri kuli itu kalo makan gimana. Ya you know lah.... ~
Kuli kalo makan kan ambil nasinya bejibun, ngambil lauknya juga bejibun. Makanan sepiring aja mirip tumpeng tujubelasan di deket rumah gua taun kemaren. Itu juga baru 1 kuli. Belom kuli yang laen. Ya mungkin restonya bakal ganti slogan kayak judul diatas. Dan diakhir cerita, restoran itu pun rugi gara-gara puluhan kuli bangunan.


-Tamat-






Kamis, 06 Maret 2014

Aku - 25 kilometer / jam

Senja telah berpamitan dengan penghuni langit, beranjak pergi. Kini malam pun menghampiri. Sungguh, itu terjadi setiap hari. Boleh aku menyapamu kembali, sendu menawan ? Barangkali kau tak tau. Gemerlap puluhan lampu sejauh puluhan meter menyambut elok malam ini. Tak mewah. Tak Elegan. Semakin terlihat dari jauh semakin menawan, sama sepertimu. Susunan lampu bercahaya putih terang menjulang ke langit malam. Menerobos sekitar. Semakin dekat, semakin jelas itu hanyalah tatanan lampu pada gedung yang rupanya hanya berbentuk rangka saja. Mungkin kau pikir aku ini gila, sendu menawan.

Kupacu laju kendaraan roda dua ku yang hanya sebatas 25 kilometer per jam. Cukup lambat. Tapi itu cukup untuk memandang eloknya lampu gedung dari kejauhan. Angin dengan lembutnya membelai wajah. Pepohonan di sisi jalan saling menyibakkan dedaunan. Sepanjang jalan lengang. Hanya desauan angin yang terdengar. Kupacu laju kendaraan roda dua ku yang hanya sebatas 25 kilometer per jam. Ah, alangkah menawannya pemandangan seperti ini. Lagi-lagi aku kembali mengingatmu, sendu menawan.

Kau tau, sendu menawan ? Pak tua bilang 'sembilan dari sepuluh kecemasan itu hanya imajinasi yang dibuat-buat sendiri. Kenyataannya belum tentu hal itu terjadi'. Ah, iya. terkadang pemikiran negatif seperti itu selalu muncul. Sesuatu yang memang akan dikatakan negatif itu memang belum tentu akan terjadi, atau memang tidak akan pernah terjadi. Sungguh ini masalah yang sepele tapi agak rumit, sendu menawan.

Satu kilometer berlalu. Jalanan masih lengang. Tetap masih menyisakan desauan angin yang menemani. Satu-dua kendaraan lain menyalip dari sebelah kananku. Kupacu laju kendaraan roda dua ku yang hanya sebatas 25 kilometer per jam. Masih kupandangi gemerlap lampu di gedung itu, sungguh mempesona, dan lagi-lagi aku teringat dirimu, sendu menawan.
Apa kau tau, sendu menawan, mengapa aku hanya memacu lambat kendaraan roda dua ku sebatas 25 kilometer per jam ? aku berpikir bahwa satu diantara sepuluh kecemasan yang ada, itu memang hal negatif yang akan terjadi padaku. Pandanganku kelangit hanyalah usaha untuk menyayat kecemasan yang satu ini. Boleh jadi pak tua bersikukuh bahwa sembilan kecemasan itu dalam hal nyatanya  kemungkinan tak akan terjadi. Tapi apakah beliau juga memikirkan tentang satu kecemasan yang terakhir ini ?
Hei sendu menawan, bagiku posisi 'sembilan' berbanding 'satu' kecemasan itu sama kuat. Tak ada bedanya. Keduanya akan terjadi, walaupun salah satunya akan mengalah. Sisi mana yang akan mengalah ? entahlah.


Kupacu laju kendaraan roda dua ku yang hanya sebatas 25 kilometer per jam. Tujuanku hampir sampai.....

Minggu, 23 Februari 2014

Aku - 3 Detik Yang Berlalu

Hai kau. Iya, kau. Kupikir kau akan kusebut saja dengan sebutan yang ada di beratus-ratus paragraf yang kubaca.




Hai kau, kusebut saja si Sendu Menawan...


Kau lihat langit mendung malam ini ?
Rintik hujan dengan teraturnya menyisir atap tempatku terduduk. Barangkali juga menyisir atap tempatmu melepas lelah. Disana.


Wahai sendu menawan, aku ingin belajar berhitung untuk hari ini. Mungkin ini aneh buatmu, sendu menawan. Tapi tak apalah, apa pula arti ini buatmu, sendu menawan. Tak ada.


1 hari hanya 24 jam. Tiap jam hanya memiliki 60 menit. Memang sudah hukumnya tiap menit hanya berisi 60 detik. Kuhitung 1 jam memperoleh waktu 3600 detik. Jika semua detik dalam 1 jam tersebut dikalikan 24 atau sama halnya 1 hari. Aku memperoleh 86400 detik. Setiap hari aku memiliki 86400 detik. Begitu juga kau, sendu menawan.

Wahai sendu menawan, setiap 86400 detik yang kulalui, hanya 3 detik yang dapat kugunakan untuk melihatmu sendu menawan. Itu pun jika Dia berkehendak. Sayangnya setiap 3 detik yang kuperoleh hanya desauan angin saja yang bisa kudapat. Tapi tak apalah, aku hanya tinggal melalui sisa 86397 detik lagi demi 3 detik yang kuperoleh berikutnya. Jika sama saja berikutnya, tak apalah, aku tinggal menghitung 86397 detik lagi untuk memperoleh 3 detik berikutnya yang menurutku itu hal yang menawan.

Apa kau melihat langit malam setelah gerimis ini menyapu, wahai sendu menawan ?

Ah...mungkin tidak. Kau mungkin terlalu lelah dengan urusanmu.
Langit malam kali ini hanyalah tanah lapang gelap yang ditaburi triliyunan bintang. Begitu menawan, seperti saat melihatmu. Iya, barangkali kau tidak sempat melihatnya, sendu menawan. Aku bisa melihatnya langit itu, pastinya dari tempat tak beratap. Hal itu kulakukan hanya untuk menyayat 86379 detik yang tak kunjung habis. Saat 3 detik itu bermula dan gagal, aku hanya berdoa kepadaNya....semoga 3 detik berikutnya memang benar-benar menawan seperti yang sudah kudambakan.